Subyek penelitian ini adalah komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku dengan objek permasalahan sebagai fokus penelitian

Subyek penelitian ini adalah komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku dengan objek permasalahan sebagai fokus penelitian, di antaranya makna diri, konsep diri, pengalaman komunikasi agama dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan metode interpretatif subjektif dengan teoretis tindakan sosial, fenomenlogi, dan interaksi simbolik. Dimaksudkan untuk memberikan bahan komparasi dan referensi agar realitas kehidupan dihadapi komunitas Muslim-Kristiani dapat dipahami secara komprehensif sehingga penelitian ini mampu menyajikan hasil penelitian, memiliki nilai originalitas dan nilai kebermanfaatan bagi bidang akademis yang ilmiah dan dunia sosial yang alamiah.
Penelitian terdahulu dapat memberikan gambaran mengenai penelitian terhadap konsep komunikasi agama yang begitu beragamnya tema-tema dapat dikaji dalam penelitian ini dapat dilihat dari hasil penelusuran penelitian terdahulu yang peneliti temukan, seperti hasil penelitian berikut ini.
Marsel Robot (2008). Hasil penelitian. “Konstruksi Harmoni Antar Salib dan Bulan Sabit Sebuah Etnografi Komunikasi Antaragama Antara Komunitas Katolik dan Komunitas Islam di Natram Manggarai Flores Barat Nusa Tenggara Timur.” Pelitian ini menggunakan teori interaksi simbolik dan konstruksi sosial yang mendeskripsikan gambar suci dan patung di ruang tamu sebagai pusat interpretasi sekaligus suatu himbauan penyesuaian pemahaman antara mereka. Setiap tindakan komunikasi mereka selalu mempertimbangkan respon orang lain. Fenomena tersebut terlihat dalam pola komunikasi di mana konteks dapat menentukan cara dan makna pesan.
Bukhari (2009). Hasil Penelitian. “Dakwah Ahlulbait Kajian Kang Jalal.” Penelitian ini bertujuan mengetahui dakwah Ahlulbait kajian Kang Jalal, khususnya materi disampaikan dengan pendekatan dan media digunakan serta meneliti objek dakwah Kang Jalal. Menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus dengan beberapa temuan di antaranya cara dakwah mencerahkan intelektual pelaku pengajian, menggunakan pendekatan komunikasi persuasif, empati, studi kritis dan rasional. Untuk mencerahkan spiritual, menggunakan pendekatan sufistik. Dakwahnya tidak banyak menyebut Syiah secara terang-terangan. Sosok Kang Jalal sebagai seorang ahli komunikasi dalam dakwahnya tidak memunculkan sesuatu bersifat konfrotasi dengan pengikutnya dan terbuka untuk umum.
Bambang Saiful Ma’arif (2009) meneliti “Pola Komunikasi Dakwah KH. Abdullah Gymnastiar dan KH. Jalaluddin Rakhmat dalam Membina Kehidupan Beragama Jamaahnya di Bandung.” Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik komunikator, membina keyakinan, pesan komunikasi dakwah, pandangan da’i mengenai jama’ahnya, dan pola komunikasi dakwah menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan “rhetorical criticism” melihat pada figur komunikasi, pesan, dan kebahasannya. Di antara temuannya adalah model komunikasi dakwah KH. Abdullah Gymnastiar terfokus pada ruhiyyah-praktis yang melahirkan amal shaleh. Sedangkan model komunikasi dakwah KH. Jalaluddin Rakhmat berbasis informasi kognitif terfokus pada pergerakan.
Toto Suryana (2011). Hasil Penelitian. “Konsep dan Aktualisasi Kerukunan Antar Umat Beragama.” Metode digunakan adalah kualitatif interpretatif subjektif. Temuannya adalah keberagaman, dianggap sebagai realitas dan ketentuan dari Allah SWT sehingga umat beragama diperlukan rasa keberterimaan dan usaha untuk memelihara dengan mengarahkan kepentingan dan tujuan bersama. Perbedaan umat beragama sebagai fakta yang harus disikapi secara positif sehingga antar pemeluk agama terjadi hubungan kemanusiaan yang saling menghargai dan menghormati. Agama bersifat universal, namun beragama tidak mengurangi rasa kebangsaan, namun menguatkan rasa kebangsaan. Agama mendorong penganutnya untuk membela kehormatan dan kedaulatan bangsa sebagai warga negara Indonesia.
Nurkholik Affandi (2012). Hasil Penelitian. “Harmoni dalam Keragaman: Sebuah Analisis tentang Konstruksi Perdamaian Antar Umat Beragama.” Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan beberapa temuan adalah harmoni kerukunan antar umat beragama dewasa ini menjadi sebuah harapan ditengah-tengah kehidupan antar umat beragama yang memiliki potensi terjadinya konflik. Menggunakan teoretis konstruksi perdamaian kerukunan antar umat beragama dengan temuan menciptakan perdamaian, unsur-unsur dalam kontruksi perdamaian pada dasarnya tidak mutlak secara keseluruhan harus terpenuhi akan tetapi sebagian dari unsur-unsur yang ada juga memiliki kontribusi dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Kerukunan antar umat bergama dapat dilihat pada beberapa fenomena sosial, seperti terjadinya dialog antar umat beragama, terbentuknya civic asosiasi multi identitas, baik dari segi agama, etnis mapun ras. Unsur-unsur dalam kontruksi perdamaian pada dasarnya tidak semuanya harus terpenuhi.
Ujan Mahadi (2013). Hasil Penelitian. “Membangun Kerukunan Masyarakat Beda Agama Melalui Interaksi dan Komunikasi Harmoni di Desa Talang Benuang Provinsi Bengkulu.” Paradigma digunakan adalah interpretative subjektif dengan menggunakan pendekatan sosiologi dan interaksionisme simbolik. Beberapa temuan di antaranya adalah kerukunan hidup masyarakat beda agama terbangun melalui interaksi dan komunikasi harmoni yang saling menghargai, menghormati, memberikan toleransi dan tidak menyinggung masalah agama dalam kehidupan masyarakat. Faktor lain mendukung adalah adanya kesadaran tinggi dari masyarakat akan pentingnya kerukunan hidup beragama yang ditanamkan sejak kecil secara turun temurun oleh pendahulunya dan tumbuhnya jiwa nasionalisme dalam kehidupan masyarakat; dan ketiga, adanya ikatan kekerabatan yang dihasilkan dari pernikahan yang sebelumnya beda agama.
Diah Fatma Sjoraida et.al (2016). Hasil Penelitian. “Pola Komunikasi Tokoh Lintas Agama dalam Menjaga Kerukunan Umat Beragama di Kota Bandung.” Penelitian dilatarbelakangi dengan banyak munculnya kekerasan berlabelkan agama di Indonesia. Menggunakan metode kualitatif dengan beberapa temuan di antaranya adalah pola komunikasi tokoh lintas agama dilakukan dengan cara komunikasi dua tahap, (a) Komunikasi formal, mereka menyampaikan pendapat, usulan serta gagasannya melalui musyawarah yang kemudian ditetapkan menjadi sebuah keputusan. Musyawarah dilakukan secara rutin antar tokoh lintas agama yang tergabung dalam FKUB kota Bandung sesuai dengan program kerja yang ditetapkan, dan (b) Komunikasi informal, mereka melakukan kunjungan silaturahmi, mengadakan diskusi terbuka, menyelenggarakan perlombaan dan lainnya.
Masykur (2016). Hasil Penelitian. “Pola Komunikasi Antar Umat Beragama: Studi Dialog Umat Islam dan Kristen di Kota Cilegon Banten.” Menggunakan metode kualitatif dengan beberapa temuan di antaranya adalah kehidupan beragama dinamis, tidak bisa tidak lain, para penganut agama harus menapaki jalan menuju dengan menghormati perbedaan-perbedaan agama, pluralitas agama lewat keterbukaan terhadap agama yang lain untuk bisa saling mengenal dan saling memahami timbal balik, seperti melalui proses dialog antar agama. Dialog antar agama sebagai titik pertemuan para penganut berbagai agama. Dialog antar agama merupakan bentuk komunikasi bukan hanya terbatas kepada diskusi rasional tentang agama termasuk diskusi tentang etika atau teologi agama-agama, namun juga bisa mengambil berbagai macam bentuk, seperti dialog kehidupan sehari, karya sosial bersama, maupun dialog pengalaman beragama. Terdapat berbagai macam bentuk dialog, begitu pula berbagai macam kesulitannya. Namun bagaimana pun bentuk dialog antar agama tersebut, maupun macam kesulitan yang menyertainya, dialog antar agama merupakan suatu bentuk komunikasi manusia.
Mahmudah (2017). Hasil Penelitian. “Tindakan mengenai Komunikasi Agama di Griya Lobunta Lestari Cirebon.” Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan beberapa temuan adalah belajar membaca al-Qur’an dilatarbelakangi mengamalkan kandungannya, memberikan kenyamanan batin, merasakan kedekatan kepada Allah, serta menumbuhkan ikatan silaturarahmi terhadap sesama muslim. Dengan tindakan komunikasi pelaku Dallam kehidupan beragama menunjukkan positif, berhubungan tindakan pemberantasan buta huruf al-Qur’an maupun kajian kitab, hanya saja penambahan frekuensi tindakan komunikasi.
Masmuddin (2017). Hasil Penelitian. “Komunikasi Antar Umat Beragama di Kota Palopo: Perspektif Kajian Dakwah.” Adapun metode digunakan kualitatif dengan beberapa temuan di antaranya adalah Komunikasi antar umat beragama sangat perlu dilakukan secara intensif, pemeluk agama tentu saja mengakui dan meyakini bahwa agama dianutnya dapat menyampaikan kepada keselamatan hidupnya baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Setiap agama memiliki misi penyebaran masing-masing. Semua penganjur agama, baik Islam, Nasrani maupun Hindu akan menyampaikan ajaran agamanya kepada orang lain. Bentuk-bentuk Komunikasi antar umat beragama dilakukan berupa seminar atau dialog, di dalam kegiatan-kegiatan tersebut sering terjadi dialog atau diskusi antar umat beragama, seperti bagaimana merajut tali kasih antar sesama, bagaimana urgensi menyambung tali persaudaraan antar pemeluk agama dan sebagainya. Selain itu, terdapat pula bentuk kerja sama dalam pengamanan, terutama pada hari-hari tertentu.
Penelitian ini hanya meneliti umat beragama melalui pengalaman komunikasi dilingkungannya, sehingga tidak memberi gambaran yang utuh mengenai pengalaman sadar komunitas umat beragama menjalani hidupnya dalam kesehariannya dan tidak membahas makna beragama, konsep diri beragama, serta proses tindakan interaksi komunikasi agama yang telah dilakukan.
Penelitian terdahulu dikemukakan memiliki sejumlah kemiripan dalam aspek fenomena sosial diteliti, yaitu fenomena suatu realitas sosial dialami oleh komunitas Muslim-Kristen di Kepulauan Maluku. Penelitian ini yang akan dilakukan memiliki perbedaan signifikan dengan penelitian terdahulu tersebut, mengingat aspek fokus penelitian, pendekatan penelitian, tujuan penelitian dan karakteristik subjek ditelitinya memiliki perbedaan cukup mendasar untuk disamakan. Penelitian terdahulu sejenis ini pun dapat dijadikan referensi bagi penelitian ini terutama dalam hal pembahasan hasil penelitian akan dilakukan kelak setelah data terkumpul dan pengolahan data untuk dijadikan sebagai bahan pengambilan kesimpulan.
Berdasarkan perspektif interpretif atau fenomenologis, komunitas Muslim-Kristiani memiliki pengalaman proses komunikasi agama di alami di lingkungan sekitarnya diasumsikan sebagai realitas subjektif. Ini menarik untuk diteliti dengan mengetahui bagaimana makna diri, konsep diri, dan pengalaman komunikasi agama Komunitas Islam-Kristen di lingkungannya dialami dalam kehidupan sehari-hari dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama di Kepulauan Maluku.
2.2 Landasan Konseptual
2.2.1 Identitas Beragama
Identitas merupakan suatu fenomena yang timbul dari dialektika antara individu dan masyarakat. Dalam perspektif komunikasi, identitas dibentuk melalui komunikasi dengan orang lain. Erikson berpendapat dalam Burns bahwa identitas sebagai: “… a subjective sense of an invigorating sameness and continuity.” Artinya Erikson menyatakan identitas sebagai bentukan dihasilkan melalui serangkaian upaya dan proses tertentu memiliki makna tersendiri dalam budaya sosial untuk memperkuat pemikiran mengenai kesamaan dan keberlangsungan secara subjektif.
Identitas beragama dimiliki komunitas Muslim-Kristiani merupakan bentukan yang dihasilkan sejumlah tindakan proses interaksi komunikasi agama di lingkungan sekitarnya. Interaksi ini memiliki makna tersendiri berdasarkan pengalaman beragama mereka sehingga dapat dijadikan kerangka rujukan untuk memperkuat pemikiran mengenai kesamaan dan kelestarian komunitas mereka sendiri yaitu Muslim maupun Kristiani dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama dilingkungan sekitarnya.
2.2.2 Komunikasi Agama
Agama dapat dipahami melalui beberapa perspektif, di antaranya perspektif sosiologi, antropologi sosial, dan antropologi kultural. Agama merupakan “religion” dalam Bahasa Inggris, termasuk apa yang disebut agama wahyu, agama natural, dan agama lokal. Agama dalam perspektif sosioantropologi atau ilmu sosial pada umumnya adalah keterkaitan dengan “kepercayaan dan upacara” dimiliki bersama oleh suatu kelompok masyarakat. Dasar pemikiran agama berlaku umum adalah “kepercayaan.” Tremmel dalam Amri Marzali menyebutkan, agama adalah cara-cara manusia berperilaku dalam usaha menghadapi aspek-aspek kehidupan manusia yang menakutkan dan tidak mampu untuk dimanipulasi.” Berbagai teknik intelektual, moral dan ritual dilakukan merupakan cara-cara manusia bertindak menghadapi kehidupannya. Esensi agama manusia adalah suatu kepercayaan dari manusia itu sendiri untuk melakukan tindakan dalam kehidupan beragama. Agama manusia memiliki bentangan yang sangat luas mencakup komunikasi.
Komunikasi sebagai menyokong seluruh hubungan manusia dalam mengorganisasikan kehidupan beragama. Pengorganisasian ini tergantung pada individu sebagai pelaku interaksi menyampaikan pesan melalui hubungan umpan balik dikembangkan. Komunikasi bagian dari proses membangun hubungan beragama manusia. Prasyarat kehidupan manusia adalah komunikasi, dan tidak ada kehidupan manusia jika tidak ada komunikasi. Karena tanpa komunikasi, interaksi antarmanusia tidak mungkin dapat terjadi. Dua individu dikatakan melakukan interaksi apabila masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi dilakukan manusia berdasarkan kepercayaan dimiliki merupakan komunikasi agama. Komunikasi agama sebagai kepercayaan dimiliki individu untuk bertindak dalam proses komunikasi melalui interaksi di lingkungan sekitarnya. Komunikasi agama diibaratkan sebagai urat nadi kehidupan manusia.
Komunikasi agama adalah kepercayaan dari manusia dalam lingkungan dan situasi komunikasi yang ada. Atau kata lain, komunikasi agama adalah cara-cara berpikir, berpengetahuan dan berwawasan, berperasaan dan bertindak atau melakukan tindakan dianut individu, keluarga atau masyarakat dalam mencari dan menyebarkan informasi beragama. Komunikasi agama juga berarti cara manusia bertindak berdasarkan kepercayaan dalam mencari dan menyampaikan informasi melalui berbagai saluran yang ada dalam jaringan komunikasi masyarakat setempat. Komunikasi agama berarti cara manusia bertindak berdasarkan kepercayaan dimiliki sebagai pelaku komunikasi, karena di sini komunikasi agama dimaknai sebagai saling berbagi pengalaman beragama.
Penelitian ini berusaha mengungkapkan komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku pada lingkungan dialami dalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan proses interaksi komunikasi agama dalam mewujudkan kehidupan harmonisasi beragama di lingkungan sekitarnya yang telah membentuk dunia mereka yang diyakininya dan berkembang menjadi realitas dalam kehidupan beragama.
2.2.3 Harmonisasi Beragama
Setiap individu memiliki hak paling hakiki dalam kehidupannya adalah beragama. Karena beragama sebagai pengejawantahan dari kepercayaan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Suatu kepercayaan dari manusia itu sendiri adalah agama, diyakini untuk diaplikasikan dalam kehidupan di lingkungan sekitarnya dan agama itu sendiri memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan manusia, seperti perspektif sosioantropologi, secara umum agama berfungsi dalam kehidupan manusia, di antaranya adalah mengatur tindakan manusia, meringankan beban hidup, psikologis, spiritual, tradisi lisan, memberi kenikmatan, menjaga solidaritas, dan menangani masalah-maslah utama kehidupan manusia. Esensi fungsi agama dalam kehidupan manusia adalah “edukatif, penyelamatan, pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan transformatif.” Kehidupan manusia dimengaruhi agama, dengan mengaruh pada “kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian manusia.” Ketiga aspek ini, fenomena sosial kemasyarakatan yang kompleks dan terpadu, mengaruhnya dapat diamati pada tindakan kehidupan beragama.
Dalam kehidupan beragama pluralistik, kebutuhan untuk “menengok kembali” konsep harmonisasi beragama menjadi kebutuhan, tidak dapat dipisahkan bagi umat beragama. Konsep harmonisasi beragama mengandung nilai-nilai dasar dapat dikembangkan untuk menjadi landasan mewujudkan hubungan antaragama harmonis. Seperti Suparlan menjelaskan kehidupan beragama “sistem pada konsep dipercaya dan menjadi keyakinan secara mutlak, dan upacara-upacara beserta pemuka-pemuka melaksanakannya. Sistem akan mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungannya.” Dalam konteks kehidupan beragama, kebenaran ada pada siapa saja yang memyembah Allah SWT., dengan setiap bidang kehidupannya, sebab semuanya adalah berada dalam ruang lingkup realitas Illahi sebagai Wujud Tunggal dan tidak ada paksaan dalam memilah-milah pemeluk agama (Q.S.al-Baqarah: 256). Islam tidak membenarkan adanya pemaksaan dalam memengaruhi individu non Islam untuk memeluk agama Islam. Karena Islam merupakan agama tidak memaksa umat lain untuk menganutnya.
Semua agama harus menjunjung tinggi penyelamatan dan keselamatan manusia, seharusnya para pemeluk agama harus saling bahu-membahu untuk menghadapi masalah, yakni menjaga umat manusia dan lingkungannya dari kerusakan dan pengrusakan. Umat beragama harus saling toleransi, kerjasama, menghindari sikap ethnosenterisme dan fanatisme serta inklusivitas dalam kehidupan beragama. Seperti dijelaskan Muhammad al-Gazali dan Yusuf al-Qardawi dalam Sumartana et al., “masyarakat Islam dibina atas prinsip toleransi, kerjasama dan Inklusivitas dan umat Yahudi dan Kristen yang bersedia hidup berdampingan dengan umat Islam.” Kehidupan harmonisasi beragama bagi setiap individu merupakan kekhasan dari potensi integrasi kehidupan berbagai agama untuk hidup berdampingan, saling menolong, dan bekerjasama, khususnya “basudara samua” Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku.
Harmonisasi beragama merupakan wujud relasi antarumat beragama dalam melakukan tindakan proses interaksi komunikasi agama di lingkungan kehidupan di sekitarnya. Individu melakukan interaksi satu sama lain berarti mereka melakukan “kebersamaan” atau melakukan pertukaran pendapat, pikiran, informasi, kemampuan dan semacamnya. Melalui hubungan dilakukan, dapat diciptakan kebersamaan di antara keterlibatan dalam proses interaksi komunikasi agama. Soekanto menjelaskan bahwa “kehidupan sosial dan interaksi sosial sebagai faktor utama terjadinya tindakan sosial.” Interaksi sosial sebagai proses komunikasi agama dengan mengaruh timbal-balik pada tindakan dilakukan komunitas Muslim-Kristiani berdasarkan pengalaman dan kesadaran untuk mewujudkan keharmonisan kehidupan beragama.
Pengalaman dan kesadaran dalam tindakan komunikasi agama secara subyektif seringkali memunculkan perasaan “etnosentrisme.” Subjekjektivitas pemeluk agama akan melahirkan sikap kebenaran agama. Memunculkan sikap “basudara” dengan agama tertentu, dipandang memiliki persamaan dan juga sikap antipati dan diskriminasi terhadap pemeluk agama lain, dipandang banyak perbedaan dan merugikan keberadaan agama tersebut. Menurut Paul Ngganggung dalam Sumartana et.al, sikap ethnosentrisme adalah “sikap yang selalu mengutamakan kelompok sendiri. Kelompok sendiri selalu dianggap lebih baik dari kelompok golongan lain.” Sikap ini, seringkali komunitas agama miliki untuk melakukan tindakan komunikasi agama yang menganggap agama lain kurang baik. Bahkan sikap seperti ini akan melahirkan sikap-sikap seperti prasangka, streotype, kecurigaan dan lain sebagainya.
Sikap seperti itu, akan memengaruhi tindakan dan merugikan umat beragama lainnya, seperti prasangka beragama merupakan penilaian atas suatu keputusan dan pengalaman sebelumnya yang sifatnya berbentuk negatif maupun positif, namun sebagian besar umat beragama memiliki sifat prasangka lebih cenderung negatif. Menurut Andrew F. Acland dalam Fisher et.al, prasangka “opini mengenai objek, individu, dan kelompok terbentuk terlalu dini, tanpa alasan yang baik atau pengetahuan ataukah pengalaman yang cukup.” Kecenderungannya memengaruhi timbulnya sikap dan tindakan umat beragama jika prasangka yang sudah berlangsung lamadan mengakibatkan kerugian terhadap umat beragama lainnya.
Realitas kehidupan beragama, ada benarnya jika direlasikan prasangka beragama. Prasangka agama lebih cenderung ketimbang prasangka kesukuan. Prasangka beragama cenderung bersikap secara negatif terhadap agama lain lebih tinggi dibandingkan sikap positifnya. Prasangka agama, seperti klaim kebenaran mutlak dan tindakan komunikasi dakwah Islam dan misi Kristen agresif, kecenderungan awalnya pemicu ketegangan, kemudian berakhir dengan tindakan komunikasi negatif dalam beragama, menjadikan dishamonisasi kehidupan beragama.
Setiap agama memiliki misi agama sebagai media pemersatu sosial di antara umat beragama, maka kepercayaan beragama sangat dibutuhkan. Setiap tindakan komunikasi umat beragama diyakini akan terkait dengan sistem kepercayaan dan keyakinan dari ajaran agama dianutnya. Kepercayaan dan keyakinan beragama di sini tercermin pada relegiusitas umat beragama untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku dengan melakukan proses tindakan komunikasi agama untuk mempertemukan kepentingan dan keinginan masing-masing untuk menciptakan simbolik kesamaan “basudara samua” dengan kesepakatan dan keputusan bersama untuk saling hidup berdampingan, toleransi, kebersamaan, dan kekeluargaan sesama umat beragama di Kepulauan Maluku.
2.2.4 Konsep Diri Beragama
Konsep diri merupakan himpunan persepsi atau pemaknaan pada setiap aspek diri, di antaranya penampilan, kemampuan, pengetahuan, kelebihan, dan kekurangan diri. Menurut Brooks dalam Rakhmat, konsep diri “those physical, social, and psychological perceptions of ourselves thaat we have derived from experiences and our interaction with others.” Individu memaknai dirinya melalui pengalaman dan interaksi orang lain dengan membangun konsep diri, kondisi sosialnya dan kondisi psikologisnya. Konsep diri adalah gambaran dan penilaian seseorang individu terhadap dirinya sendiri.
Konsep diri Komunitas Muslim-Kristiani dilandasi oleh pengalaman interaksi beragama yang bersifat simbolik antar dirinya dengan orang lain. Konsep diri dalam pandangan Mead dan Cooley merujuk kepada proses interaksi sosial individu dengan orang lain dan bagi Mead dan Cooley, “diri” muncul karena komunikasi. Konsep diri dibangun Komunitas Muslim-Kristiani melalui proses komunikasi pada interaksi kehidupan beragama lingkungan sekitarnya. Artinya Komunitas Muslim-Kristiani akan merasa diri sebagai “seperti apapun,” lantaran mereka mempersepsikan dirinya atas dasar hasil persepsinya terhadap persepsi orang lain atas dirinya. Konsep diri inilah menjadi landasan bagi pemunculan makna subjektif dari setiap tindakan dilakukan oleh Komunitas Muslim-Kristiani dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama.
Melalui tindakan interaksi, individu akan berubah pengetahuannya, pengalamannya dan kemampuannya sehingga dapat mengubah konsep dirinya. Seperti West dan Turner mengemukakan konsep diri sifatnya stabil, konsisten dalam situasi berbeda, sehingga konsep diri bisa menjadi fleksibel dengan menyesuaikan kondisi tertentu, seperti umur. Konsep diri tidak bersifat permanen akan mengalami perubahan seiring dengan interaksi dilakukannya dengan orang lain. Dengan berinteraksi, individu akan berubah pengetahuannya, pengalamannya dan kemampuannya sehingga dapat mengubah konsep dirinya.
Konsep diri seseorang memiliki dua komponen, yaitu kesadaran diri (self awareness) dan penghargaan diri (self esteem). Kesadaran diri muncul pertama kali melalui kehadiran orang-orang terdekatnya (significant others), seperti orang tua dan anggota keluarganya yang lain membantunya mengenali diri. Sedangkan penghargaan diri terbentuk melalui evaluasi mengenai perasaan diri meliputi bakat, kemampuan, pengetahuan, keahlian, dan penampilan. Penghargaan diri meliputi peran sosial seperti misalnya keterlibatan tindakan komunikasi ritual, pembangunan masjid, makan patitah ditambah dengan penilaian orang lain mengenai peran sosial tersebut. Konsep diri merupakan faktor sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena tindakan individu berkomunikasi sesuai dengan konsep dirinya. Individu dengan konsep dirinya negatif misalnya, akan beraksi negatif sekalipun mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain. Sebaliknya individu memiliki konsep diri positif akan bereaksi positif sekalipun mendapatkan kecaman atau kritikan dari orang lain.
Secara umum, konsep diri komunitas Muslim-Kristiani dipahami sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian terhadap dirinya menganut kepercayaan. Konsep diri bagian dari perasaan dan pemikiran individu Muslim-Kristiani mengenai dirinya sendiri, meliputi “kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri.” Pemahaman konsep diri dapat pula ditelusuri melalui penyataan Mulyana “self-conception is a process resulting from one’s social interaction with others.” Individu memiliki konsep diri tergantung pengalaman sadar dari hasil interaksi komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani dengan lingkungan sekitarnya.
2.3 Landasan Teoretis
2.3.1 Tindakan Sosial
Fenomena komunitas Muslim-Kristiani dalam proses interaksi komunikasi agama di lingkungan sekitarnya dapat diteropong dengan teori tindakan sosial dari Max Weber (1864-1920). Bagi Weber, tidak semua tindakan manusia disebut sebagai tindakan sosial. Tindakan manusia dianggap tindakan sosial, jika tindakan berkaitan dengan perilaku orang lain yang berorientasi pada tindakan orang lain. Jadi, tindakan sosial merupakan tindakan manusia yang mempunyai makna subjektif bagi pelakunya.
Tindakan sosial Weber ini dapat digunakan sebagai pijakan dalam memahami fenomena pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani kepulauan di Provinsi Maluku. Karena menurut pandangan Weber, Komunitas Muslim-Kristiani melakukan tindakan sosial dalam konteks kajian ini bagaimana mereka bertindak memaknai dan perlakuan penerimaan serta pengalaman komunikasi agama dialami berdasarkan interpretasi subjektif. Artinya Komunitas Islam-Kristen melakukan proses interaksi komunikasi agama terhadap suatu kelompok objek berdasarkan pemahaman, pemaknaan dan interpretasinya terhadap objek tersebut.
2.3.2 Fenomenologi
Teori digunakan adalah teori fenomenologi, Alfred Schutz. Pengalaman dirasakan oleh subjek memiliki makna bagi para subjek itu sendiri dan pengalaman dirasakan saling berkesinambungan satu sama lain. Fenomenologi sendiri menggambarkan mengenai makna berasal dari pengalaman hidup bagi beberapa individu mengenai konsep atau fenomena dan berdasarkan pada pengalaman sadar seseorang. Pendekatan fenomenologis berasumsi bahwa manusia adalah makhluk kreatif, berkemauan bebas, dan memiliki beberapa sifat subjektif lainnya. Menurut Husserl subjek menciptakan dunianya sendiri menurut perspektifnya sendiri yang berbeda dari subjek-subjek lain, sehingga tercipta dunia yang subjektif dan bersifat relatif.
Fokus utama analisis fenomenologi sebagaimana dikemukakan Schutz dan kaum fenomenologis adalah bagaimana merekonstruksi dunia kehidupan manusia “sebenarnya” dalam bentuk yang mereka sendiri alami. Realitas dunia tersebut bersifat intersubjektif dalam arti bahwa anggota masyarakat berbagi persepsi dasar mengenai dunia yang mereka internalisasikan melalui sosialisasi dan memungkinkan mereka melakukan interaksi atau komunikasi. Fenomenologi menurut Schutz dalam Mulyana adalah pemahaman atas tindakan, ucapan, dan interaksi yang merupakan prasyarat bagi eksistensi sosial siapapun. Bagi Schutz, tindakan manusia adalah bagian dari posisinya dalam masyarakat, sehingga tindakan individu itu bisa jadi hanya merupakan kamuflase atau peniruan dari tindakan orang lain yang ada disekelilingnya. Peneliti menggunakan teknik untuk mendekati dunia kognitif objek penelitian.
Komunitas Muslim-Kristiani mempelajari makna dalam melakukan tindakan proses komunikasi melalui interaksi komunikasi agama. Pengalaman komunikasi agama pada masa lalu dapat memengaruhi bagaimana pendapat mereka di masa depan dalam menentukan tujuan maupun mengambil keputusan. Pembentukan makna melalui proses komunikasi karena makna tidak bersifat intrinsik terhadap apapun. Dibutuhkan konstruksi interpretif di antara mereka untuk menciptakan makna diri beragama. Bahkan tujuan dari interaksi adalah untuk menciptakan makna yang sama. Tanpa makna komunikasi akan menjadi sangat sulit, bahkan mungkin komunikasi itu tidak dapat terjadi. Makna kita bagi bersama dengan orang lain, pemaknaan kita mengenai dan respon kita terhadap sebuah realitas merupakan hasil dari suatu proses interaksi untuk memperoleh gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai pemaknaan dan perlakuan penerimaan serta pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani di lingkungan dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman komunikasi agama bisa terjadi karena adanya proses komunikasi dan interaksi antar umat beragama. Komunikasi agama adalah pusat paling sentral dalam mempertahankan keberlangsungan hidup individu dan menjalin hubungan antar umat beragama. Frank Dance menggambarkan proses komunikasi dengan menggunakan sebuah spiral. Pengalaman komunikasi agama bersifat kumulatif dan dimengaruhi masa lalu. Pengalaman di masa sekarang secara tidak terelakkan akan memengaruhi masa depan seseorang, penekanan pada proses komunikasi tidak linear dan komunikasi, dianggap sebagai proses yang berubah seiring dengan waktu dan berubah di antara orang-orang berinteraksi.
Setiap peristiwa dialami Komunitas Islam-Kristen akan menjadi sebuah pengalaman bagi dirinya. Pengalaman diperoleh mengandung suatu informasi atau pesan tertentu. Informasi yang diperoleh akan diolah menjadi suatu pengetahuan. Berbagai peristiwa dialami dapat menambah pengetahuan dirinya. Suatu peristiwa mengandung unsur komunikasi akan menjadi pengalaman komunikasi agama tersendiri bagi dirinya, dan pengalaman komunikasi agama dianggap penting akan menjadi pengalaman yang paling diingat dan memiliki dampak khusus bagi dirinya dan pengalaman mereka bisa sama. Namun makna dari pengalaman itu berbeda-beda bagi setiap komunitas agama. Maknalah membedakan pengalaman dirinya dengan pengalaman komunitas agama lainnya. Makna juga membedakan pengalaman yang satu dan pengalaman lainnya. Komunitas Muslim-Kristiani kepulauan di Provinsi Maluku berbagi pengalaman untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama. Komunitas Muslim-Kriatiani melakukan tindakan komunikasi untuk berbagi dan bertukar informasi dari berbagai hal yang telah dialami. Pengalaman masa lalu bisa memengaruhi pemaknaan bagi setiap diri komunitas Muslim-Kristiani.
2.3.3 Interaksi Simbolik
Teori interaksi simbolik, sesungguhnya masih berada dalam payung perspektif fenomenologis menganggap kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai titik fokus dalam memahami tindakan sosial. Teori ini digunakan dalam memandu dengan meneropong fenomena komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku.
Bogdan dan Taylor dalam Mulyana mengemukakan interaksi simbolik, “salah satu dari pendekatan utama dalam tradisi fenomenologis.” Senada dengan pemikiran fenomenologis, seorang tokoh interaksionalis simbolik, George Herbert Mead dalam Sulaeman berpendapat “realitas sosial merupakan sebuah proses. Proses dimaksud dalam pemikiran Mead adalah proses kala individu menjadi bagian dari masyarakat.” Istilah lain interaksi simbolik adalah internalisasi yang merujut pada suatu peristiwa di saat diri melakukan interpretasi subjektif atas realitas objektif yang merupakan hasil dari “generalisasi” orang lain. Perspektif interaksi simbolik (George Herbert Mead (1863-1932) dan Herbert Blumer (1900-1987) melihat realitas sosial diciptakan manusia melalui interaksi makna-makna disampaikan secara simbolik. Simbol-simbol tercipta dari esensi di dalam diri manusia saling berhubungan.
Perspektif interaksi simbolik mengutamakan kesadaran pemikiran, dan diri menjelaskan makna dan simbol-simbol dipikirkan oleh komunitas Muslim-Kristiani dalam menentukan tindakannya. Melalui simbol diciptakan, dipikirkan dan dipahami dapat dijadikan sebagai dasar bagi komunitas Muslim-Kristiani dalam melakukan tindakan komunikasi agama secara verbal maupun nonverbal dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama di Kepulauan Maluku.